Akan Kemanakah Pendidikan kita ?
Oleh : Dr.H. Asep Effendi.SE.,M.Si
Menyimak perjalanan panjang proses pendidikan di Negara tercinta Indonesia, sejak sekolah dasar hingga menengah dan pendidikan tinggi. Nampaknya masyarakat semakin bingung untuk mengikutinya. Kebingungan masyarakat merupakan sebuah ekspresi spontanitas, dimana mereka mengharapkan agar pendidikan putra dan putrinya berakhir dengan meningkatnya jenjang pendidikan dan kualitas ilmu yang kemudian dapat digunakan saat berkiprah dimasa masyarakat baik sebagai pegawai atau pelaku bisnis yang kemudian dapat meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan bagi dirinya maupun bagi keluarganya kelak.
Harapan setinggi itu wajar dicanangkan oleh seluruh masyarakat karena didunia pendidikanlah perbaikan hidup dan kehidupan digantungkan, selain itu memasukan putra dan putrinya kelembaga pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang diharapkan hasilnya dipetik kemudian.
Pendidikan di Indonesia dibagi dalam dua kelompok besar yaitu pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. Seorang siswa harus menempuh wajib belajar 9(sembilan) tahun kemudian melajutkan pendidikan kesekolah menengah atas, sebenarnya program ini merupakan program pendidikan yang baik terlebih pencanangan bebas biaya pendidikan sampai tingkat menengah pertama oleh pemerintah, guna mencerdaskan bangsa. Untuk mengukur produktivitas dan kualitas pendidikan pemerintah beberapa tahun lalu telah menerapkan Ujian Akhir Nasional bagi seluruh sekolah menengah baik pertama maupun atas. Kini marilah kita lihat proses pendidikan pada pendidikan menengah, ketika pertama kali siswa masuk kelas satu atau dua nampaknya proses pendidikan terlihat normal dan berjalan pada kurikulumyang telah ditetapkan akan tetapi keadaan tersebut berbeda ketika siswa tersebut mulai memasuki kelas 3, guru mulai terlihat agak kebingungan memberikan materi pengajaran karena beberapa waktu kedepan UAN akan segera digelar, kebingungan guru juga diikuti dengan katakutan para orang tua jika putra – putrinya tidak dapat lulus UAN. Keadaan ini mendorong lembaga bimbingan belajar untuk menawarkan berbagai program bimbingan dengan berbagai variasi biaya dari yang rendah hingga yang tinggi dengan iming-iming lulus UAN dan diterima diperguruan tingg negeri. Akhirnya guru dan orang tua sepakat untuk memasukan putra – putrinya kelembaga bimbingan belajar.
Keadaan ini tentunya menjadi pertanyaan besar bagi sebagian masyarakat , a). apakah guru sudah menyerah dalam menghadapi UAN sehingga harus dibantu lembaga bimbingan; b) apakah orang tua sudah kurang kepercayaan terhadap sekolah putra – putinya atau c) memang kualitas lembaga bimbingan lebih mumpuni dibanding semua guru dan sekolah setinggi apapun pendidikan dan status akreditasi sekolah tersebut dan d) apakah kualitas pendidikan hanya ditentukan oleh UAN sementara siswa belajar berbagai ilmu yang tentu telah dipertimbangkan oleh pakar pendidikan. Kini aku sudah lulus ,pertanyaan selanjutnya Kemanakah aku melanjutkan pendidikan ku ???? aku igin sukses …….!!!!!
Universitas Sangga Buana YPKP, sebagai salah satu Pendidikan Tinggi yang telah berdiri sejak 1968 dan melahirkan lebih kurang 25 ribu alumni yang telah menyebar diberbagai bidang pekerjaan dan usaha terus berusaha konsisten menjaga komitmen sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dibidang Keuangan dan Perbankan, Teknologi serta Ilmu Komunikasi dan juga memiliki jiwa wirausaha.
Komitmen USB YPKP tersebut tentu didasarkan pada fakta bahwa tersedianya tenaga dosen yang kompeten, sarana dan prasarana yang baik, kurikulum yang uptodate serta kerjasama dengan perusahaan pengguna lulusan. Selain itu USB YPKP telah terakreditasi BAN PT sehingga telah memenuhi kualitas pendidikan yang diharapkan masyarakat.